Showing posts with label Photography. Show all posts

Latihan - Melatih Kreatif Exposure

Bisa dikatakan kali ini adalah latihan yang bagus. Latihan ini bisa membawa anda lebih jauh lagi di dunia kreatif exposure. Pilihlah subyek diam, seperti bunga, atau bisa minta teman kalian berdiri untuk foto portrait, pilih juga subyek yang bergerak, seperti air terjun atau anak kecil yang bermain ayunan, dan jika memungkinkan ambil foto pada saat hari berawan serta pilih komposisi sehingga kalian bisa menghilangkan langit di dalam foto tersebut

Flower sparkle

Atur kamera kalian pada mode manual, ISO 200, dan pasang pada sebuah tripod. Biasakan untuk menggunakan mode manual, karena ini adalah cara terbaik untuk mempelajari kreatif exposure. Sekarang atur bukaan aperture ke bilangan terkecil dari lensa kalian, bisa f/2, f/2.8, f/3.5, atau f/4, berusahalah sebaik mungkin mengambil foto Bunga atau portrait, rubah shutter speed kalian sampai mendapatkan exposure yang tepat (didalam viewfinder), lalu potretlah

Sekarang rubah aperture kalian sebanyak satu stop (contohnya, dari f/4 ke f/5.6), rubah lagi shutter speed sebanyak 1 stop untuk mendapatkan exposure tepat, lalu potretlah, demikian juga berikutnya ganti aperture kalian dari f/5.6 ke f/8 dan seterusnya, tetapi tetap ingat untuk juga merubah shutter speed untuk mendapatkan exposure yang tepat. Catat aperture dan shutter speed yang digunakan pada setiap exposure. Sobat setidaknya akan memiliki tidak kurang dari Enam kombinasa aperture dan shutter speed, dan meskipun setiap exposure sama dalam hal nilai kuantitatif, Sobat harus menemukan perbedaan pada gambar tersebut termasuk ketajamannya. Foto bunga akan tampak “sendirian” dalam beberapa frame foto, tetapi tidak pada foto dengan aperture f/16 atau f/22, beberapa elemen pada backround akan muncul dan bisa menjadi distraction ketika menggunakan bilangan f-stop besar.
Tuesday, March 11, 2014
Posted by Miftahur Rohman

Tips Memotret Air Terjun



Jangan pernah ragu untuk kembali ke tempat yang telah kalian kunjungi sebelumnya. Practice can make perfect! Hanya dengan banyak latihan bisa mengasah kemampuan fotografi kita menuju ke kesempurnaan. Sobat akan mempelajari area tersebut lebih baik, lebih mengenal kondisi pencahayaan yang ada, dan membuat komposisi yang berbeda dari sebelumnya.
Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal ketika memotret air terjun:
  1. Lighting atau pencahayaan: Pencahayaan terbaik adalah pada saat mendung, dan itu berlaku pada beberapa bidang fotografi outdoor yang lain, terutama pada saat hujan atau setelah hujan. Awan mendung sangat diperlukan sebagai difuser cahaya matahari agar kita mendapatkan shutter speed yang relatif lambat.
  2. Shutter Speed: Sobat membutuhkan jepretan dengan shutter speed sekitar 1 atau 1.6 detik agar mendapatkan foto air terjun yang blur dan halus seperti kapas. Untuk mendapatkan kecepatan shutter tersebut Sobat butuh untuk menggunakan aperture sekitaran f/16 atau bahkan lebih kecil. Sobat akan mendapatkan Depth of Field yang lebar, dimana semua frame akan terfokus. Jika cahaya pada saat pemotretan terlampau terang sehingga sulit untuk mendapatkan shutter 1 atau 1.6 detik, maca tidak ada salahnya mencoba menggunakan filter Neutral Density (ND).
  3. Filter ND: Filter neutral bisa dikatakan merupakan perangkat fotografi wajib ketika memotret air terjun. Penempatan filter ND di permukaan lensa akan mengurangi intensitas atau jumlah cahaya, yang berarti juga mengurangi shutter speed agar mengakomodasi pengurangan cahaya, tentu tanpa merubah warna subyek.
  4. Tripod dan Remote Shutter Release: Penggunaan tripod yang kokoh rasanya wajib digunakan ketika memotret menggunakan kecepatan shutter di kisaran 1 atau 1.6 detik. Remote shutter release juga bisa digunakan sebagai perangkat tambahan pada kecepatan tersebut. Penggunaan shutter remote release mampu mengeliminasi setiap getaran pada kamera ketika jari kalian menekan tombol shutter. Remote release tersedia bagi banyak merk atau model kamera, dan pastinya memiliki dampak yang besar bagi terciptanya gambar yang tajam. 
  5. Self-Timer Kamera: Penggunaan fitur self-timer pada kamera kalian akan memberikan dampak yang sama dengan penggunaan shutter remote release. Ketika fitur ini diaktifkan maka kamera tidak akan mengekspose file atau sensor gambar sampai waktu yang kita tentukan, biasanya beberapa detik. Coba atur self-timer ke 5 detik, rentang waktu tersebut cukup untuk menghentikan getaran pada kamera. Happy Water Falling :)
Posted by Miftahur Rohman

Membangun Studio Fotografi Sederhana

  Membangun sebuah studio fotografi mungkin bagi beberapa Sobat InFotografi akan terdengar rumit. Pertanyaan pertama kali yang terlintas adalah perlengkapan apa saja yang diperlukan? Nah artikel InFotografi kali ini akan mengulas perlengkapan studio apa saja sih yang benar-benar diperlukan dan keberadaannya sangat penting.




Sebuah reflektor adalah salah satu perangkat yang ternyata cukup efektif berperan sebagai sumber cahaya ketiga saat Sobat memotret menggunakan Dua sumber cahaya. Reflektor bisa digunakan untuk memantulkan cahaya yang ada ke arah subyek foto kita. Reflektor juga bisa menjadi perangkat yang sangat efektif ketika sobat memotret di luar ruangan menggunakan cahaya natural.

Reflektor yang beredar di pasaran memiliki banyak variasi bentuk dan ukuran, dan yang perlu diingat bahwa warna serta permukaan reflektor yang berbeda akan memberikan efek yang berbeda pula pada subyek. Hal yang sama berlaku pada pencahayaan di dalam studio, tinggi, angle serta jarak dimana reflektor di posisikan akan memberikan dampak pada hasil akhir.

Menyiapkan Studio Fotografi


1. Backdrop
Backdrop kebanyakan berbentuk gulungan kertas khusus. Perangkat ini beredar di pasaran dengan banyak variasi bentuk serta ukuran. Sobat akan membutuhkan pendukung backdrop berupa stand dan tiang agar backdrop bisa berdiri seperti dalam gambar. Jika sobat masih belum bisa membelinya maka bisa mencoba menggunakan lembaran besar kain. Kain dengan bahan beludru warna hitam bisa menjadi pilihan yang bagus, mengingat bahan kain ini memiliki kemampuan untuk menyerap cahaya dan memberikan warna hitam yang relatif bagus.

2. Main Light
Lengkapi sumber cahaya ini dengan sebuah diffuser, seperti softbox. Softbox memiliki kemampuan untuk memperhalus cahaya sehingga bayangan yang dihasilkan tentu tidak seberapa kuat. Angle (sudut), ketinggian serta jarak main light dengan model merupakan hal yang vital dalam penentuan hasil yang Sobat inginkan. Kontrol keluaran cahaya flash/lampu menggunakan tombol yang ada di bagian kepala flash/lampu.

3. Camera
Sobat akan membutuhkan untuk menghubungakan kamera dengan perangkat lampu studio. Hal ini bisa dilakukan dengan kabel sync (jika kamera SLR kalian memiliki socket PC) atau dengan menggunakan wireless trigger. Mode pemotretan yang paling ideal saat memotret di dalam studio foto adalah Mode Manual, toh Sobat memiliki kendali penuh terhadap subyek foto dan pencahayaan.

4. Hair Light
Sumber cahaya kedua ini diposisikan dibelakang subyek/model dengan perangkat Snoot yang terpasang. Snoot akan memfokuskan cahaya ke arah rambut model. Peran Snoot tidak hanya memberikan pencahayaan pada bagian rambut, tetapi juga memberikan kesan pemisah antara model dengan background.

5. Reflektor
Sebuah reflektor berfungsi untuk memantulkan cahaya dari main light ke sisi wajah subyek yang memiliki bayangan. Hal ini untuk memastikan bahwa bayangan yang ada di wajah model tidak terlalu gelap.

6. Model
Sobat bisa meminta teman atau anggota kelurga untuk menjadi model kalian, dan jika tidak memiliki Sobat bisa mencari referensi model yang sedang membutuhkan portofolio dan jam terbang, jadi Sobat bisa melakukan barter antara fee yang kecil, sedangkan mereka bebas menggunakan foto kalian sebagai portofolio.
Monday, March 10, 2014
Posted by Miftahur Rohman

Tips Setting Kamera Digital

Kamera DSLR memungkinkan seseorang untuk mengambil banyak foto-foto sesuai dengan kreatifitas mereka, tetapi untuk mengerti serta memahami pengaturan kamera pasti membutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi. Percaya atau tidak jika sobat ingin sekali segera menghasilkan foto yang bagus, hal ini mungkin akan membuat frustasi, tetapi bagaimanapun juga, satu-satunya cara adalah memastikan kamera kalian diatur dengan benar guna menghasilkan foto-foto seperti yang Sobat inginkan.

Setting kamera digital

Quality Control

Apakah Sobat pernah memperhatikan format file yang kalian gunakan dalam memotret? Apakah Sobat lebih memilih menggunakan format RAW daripada JPEG? Foto-foto yang diambil dengan menggunakan format RAW akan memiliki fleksibilitas lebih ketika melakukan paska produksi atau editing dengan perangkat lunak seperti Photoshop atau GIMP.
Gunakan ISO antara 100 sampai 400, dan cobalah untuk mendapatkan sensitifitas cahaya paling renda. Beberapa kamera digital akan menghasilkan Noise pada ISO tinggi. Noise biasanya dalam foto terlihat seperti butiran pasir

Ketika membicarakan White Balance, Sobat bisa membiarkannya otomatis, tetapi jika Sobat telah percaya diri perihal penggunaanya sesuai dengan kondisi pencahayaan saat memotret maka silahkan kalian atur lebih detail, seperti ke Tungsten atau Cloudy

Key Control

Aperture dan Shutter Speed bisa dikatakan sangat krusial. Dampak kombinasi dari Dua pengaturan ini tidak hanya pada jumlah cahaya yang masuk ke dalam lensa, tetapi juga pada bagaimana foto kalian akan dihasilkan.
Aperture mengendalikan Depth of Field dengan menentukan area mana saja yang akan terlihat tajam, jika Sobat memilih Depth of Field sempit dengan Foreground tajam dan Background blur, maka Sobat harus menggunakan Aperture lebar (contoh: f/2.8), dan begitu juga sebaliknya.

Shutter Speed mengontrol apakah obyek gerak terekam 'freeze' atau blur (baca artikel: Bagaimana membuat foto Blur). Semakin lambat Shutter Speed, maka akan ada lebih banyak motion blur yang tercipta.

Setting Kamera Digital


Pengaturan Mode Exposure yang Tepat

Kamera DSLR memberikan beberapa fitur mode exposure, dari full otomatis seperti yang ada di kamera saku, sampai ke full manual. Dua mode semi-otomatis yang paling populer dalam memberikan sisi kreatifitas adalah Aperture Priority dan Shutter Priority.

Aperture Priority memungkinkan kalian untuk memilih Aperture sesuai keinginan, dan kamera memilih Shutter Speed yang dibutuhkan secara otomatis. Pilih Shutter Priority jika kalian sudah mengetahui berapa kecepatan Shutter yang akan digunakan, dan kamera akan menangani pemilihan aperture untuk mendapatkan exposure yang pas. Sederhana bukan?

Gunakan Metering yang Tepat

Mode Metering akan tergantung pada kamera serta merk-nya, tetapi ada tiga macam metering yang umum terdapat pada sebuah kamera DSLR yaitu: Multi-zone, Centre-Weighted Average dan Spot. Mode Multi-Zone membaca cahaya dari keseluruhan area. Sangat cocok untuk kebutuhan sehari-hari dan akurat untuk kebanyakan situasi. Centre-Weighted Average membaca sebanyak sekitar 70% dari tengah frame, ideal untuk mengambil gambar Portrait. Metering Spot membaca hanya sebatas area kecil, oleh kerena itu metering ini sedikit sulit diaplikasikan oleh fotografer pemula.

Pengaturan AF dan Mode Drive

Kamera DSLR menawarkan beberapa mode fokus. Dua pengaturan fokus yang utama adalah Single-Servo untuk obyek diam, dan Continuous-Servo untuk obyek gerak. Kebanyakan kamera membolehkan penggunanya untuk menggunakan fokus secara manual.

Mode Drives memungkinkan kita untuk menentukan apakah kita akan mengambil foto dengan single frame setiap jepretan atau lebih dari satu jepretan selama kita menekan tombol Shutter.

Memanfaatkan Layar LCD.

Layar LCD bisa membuat kita memberikan salah penilain exposure jika kita tidak mengatur tingkat kecerahannya secara benar. Biasakan untuk mereview exposure sebuah foto menggunakan histogram atau tone chart. Sebuah grafik histogram yang cenderung memuncak di sisi kiri menandakan foto tersebut under-exposure, memuncak di sebelah kanan menandakan over-exposure.
Posted by Miftahur Rohman

Tips Membeli Kamera DSLR Bekas

  Meskipun model-model kamera keluaran baru disertai dengan teknologi termutakhir serta spesifikasi yang impresif, tetapi mereka tentu terkadang memiliki harga yang berada diluar jangkauan kita. Jika kondisi tersebut menjadi permasalahan Sobat, jangan merasa frustasi terlebih dahulu. Para fotografer tidak sedikit yang melakukan upgrade ke kamera keluaran baru dan menjual kamera lama mereka. Hal ini bisa menjadi peluang Sobat InFotografi untuk memiliki kamera second keluaran beberapa tahun yang lalu.



Membeli perangkat foto 'second' tentu menuntut ketelitian tersendiri, jadi Sobat harus memastikan agar mendapatkan kamera yang masih prima dan buka kamera dengan banyak kerusakan di sana-sini. Langkah pertama yang bisa Sobat lakukan adalah pastikan kalian membeli dari sumber yang tepercaya. Telusuri dan periksa review penjual jika Sobat membelinya secara online, pastikan seller adalah penjual yang bisa dipercaya. Sobat juga bisa membeli kamera 2nd dari website atau toko lokal yang memberikan garansi penggunaan.

Ada beberapa hal penting yang harus Sobat perhatikan saat membeli kamera second-hand untuk memastikan kondisi kamera memang cocok dengan apa yang Sobat bayarkan. Mintalah preview kamera sebelum kalian membayarnya, tetapi jika Sobat membeli secara online, maka mau tidak mau sobat harus benar-benar percaya terhadap si penjual kamera tersebut. Tetapi ingat! ajukan pertanyaan jika dirasa perlu. Pastikan tidak ada aksesoris penting kamera yang hilang seperti: lens cap, baterai, charger, dan kemudian lakukan pemeriksaan kamera sebagai berikut:

1. Periksa dead pixel
Ambil beberapa gambar! Jika sobat menemukan beberapa area terlihat tidak bewarna maka kemungkinan terdapat dead pixel. Pindah foto tersebut ke komputer PC atau notebook untuk memeriksa apakah dead pixel hanya pada layar LCD dan tidak berdampak pada foto atau malah dead pixel ada di bagian sensor kamera.

2. Periksa debu pada sensor
Jika sobat membali kamera CSC atau DSLR, maka lihatlah bagian sensor dengan cara melepas lensa atau body cap. Periksa dan lihat apakah sensor dalam keadaan bersih! perhatikan apakah terdapat partikel-partikel debu. Jika sobat tidak bisa melihat bagian sensor, maka coba ambil satu foto (langit), lihatlah apakah ada semacam noda tercetak pada foto tersebut.

3. Periksa jumlah shutter count
Periksa sudah berapa banyak tombol shutter telah dilepaskan. Sobat bisa melakukannya dengan mengambil foto dan menguploadnya ke website: www.myshuttercount.com

4. Periksa mounting lensa
Jika Sobat membeli kamera yang bisa berganti lensa, maka pastikan bagian mounting (uliran) tempat lensa tidak ada cacat atau kerusakan. Sebagai tambahan Sobat juga bisa memeriksa apakah mounting kamera tersebut komptibel atau cocok dengan lensa-lensa yang sudah kalian miliki, jika tidak cocok maka Sobat perlu membeli lensa lagi yang kompatibel.

5. Lakukan pengujian autofokus
Ambil satu foto untuk melihat seberapa cepat kamera melakukan fokus, kemudian fokuskan ke titik tertentu menggunakan single AF dan zoom untuk melihat ketajaman hasilnya. Lakukan pengujian juga pada continuous AF dengan memotret subyek yang begerak dan lihat hasilnya.

5. Telusuri kerusakan body kamera.
Kerusakan bagian luar juga bisa berarti kerusakan bagian dalam kamera, jadi waspadai jika terdapat cacat fisik. Periksa juga semua tombol dan dial berfungsi dengan semestinya. Pastikan juga flash bekerja dengan baik.

6. Lihat hotshoe
Hotshoe adalah logam kecil yang bisa Sobat temukan di bagian atas kamera. Jika sobat membeli kamera yang memiliki hotshoe maka periksa dan pastikan berfungsi dengan baik. Periksa menggunakan aksesoris fotografi yang menggunakan hotshoe seperti flash external untuk lebih memastikan.

7. Periksa ruang baterai dan slot kartu memori.
Buka tempat atau slot baterai serta kartu memori dan periksa apakah ada kerusakan. Slot baterai bisa Sobat temui di bagian bawah kamera, dan slot kamera kebanyakan berada di bagian sisi atau samping. Lihat dan periksa apakah ada pin yang bengkok maupun kotoran, alangkah baiknya sobat bisa memeriksa dengan mencoba langsung baterai atau kartu memori. Jika Sobat sudah memiliki kartu memori sebalumnya, maka pastikan cocok untuk kamera yang akan kalian beli, karena beberapa model hanya bisa menggunakan kartu microsd dan tidak kompatibel dengan varian SDXC yang memiliki kapastias besar.
Posted by Miftahur Rohman

Kelebihan Lensa Prime 50mm

Kemunculan lensa zoom sebagai standart lensa kit sepertinya semakin menenggelamkan keberadaan lensa prime 50mm, padahal lensa 50mm dulunya adalah standart yang disertakan di setiap kamera. Hal ini menurut kami sangat disayangkan mengingat Lensa Prime 50mm mampu memberikan kualitas serta kemampuan pada harga yang rendah.
My, what fast glass you have. *Explored*


Lensa Prime 50mm VS Lensa Kit

Bagi Sobat yang memiliki DSLR pasti memiliki lensa kit bukan? Mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa Saya harus membeli lensa 50mm? Padahal focal length tersebut sudah ada pada lensa kit! Jawabannya adalah lensa 50mm memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh lensa kit:

Kualitas Gambar Lebih Bagus

Desain dari lensa 50mm tampak sangat sederhana, sepertinya desainer lensa ini mengetahui bagaimana membuah lensa 50mm yang berkualitas bagus sejak dulu, dan hasilnya memang performa dari lensa ini melebihi banyak lensa zoom. Kami sering menggunakan lensa Canon EF 50mm f1.8 II (lensa termurah keluaran Canon) yang dipasang pada kamera full frame. Kami masih ingat menggunakannya pada foto arsitektur, dan terkejut dengan detil foto yang dihasilkan pada pembesaran 100%.

Harga

Seperti yang dituliskan diatas, lensa 50mm sangat simple. Lensa ini memiliki Enam sampai Delapan elemen didalamnya, sedangkan lensa Zoom biasanya memiliki elemen lebih dari dua kali lipatnya. Hal ini berarti ongkos produksi akan lebih rendah, dan sepertinya memang lensa termurah dari setiap produsen kamera adalah lensa ini. Kebanyakan 50mm memang sangat pas di kantong para fotografer pemula.

Tetapi perlu untuk diingat bahwa semakin mahal harga lensa maka biasanya memiliki kulitas body yang bagus, performa autofokus, tahan cuaca dan mungkin aperture maksimal yang lebih lebar. Contohnya pada Canon jika tidak salah memiliki Tiga lensa prime 50mm (ditambah dengan lensa makro 50mm). Sobat mungkin tidak akan melihat banyak perbedaan dalah hal kualitas gambar antara 50mm f1.8 II dan 50mm f1.2L, tetapi Sobat akan melihat perbedaannya pada kualitas bahan, dan performa autofokus. Kami menyarankan untuk mencoba Lensa yang ada ditengah-tengahnya, yaitu lensa 50mm f1.4

Aperture Maksimal yang Lebar

Ini merupakan salah satu aspek yang sangat menarik dari lensa prime 50mm (dan juga semua lensa prime). Focal length 55mm pada lensa kit biasanya memiliki aperture sekitar f5.6. Lensa prime memiliki aperture f1.8 atau lebih lebar lagi, lebih dari Tiga stop bukan? Ukuran aperture ini akan memberikan perbedaan yang mencolok ketika Sobat memotret dalam kondisi rendah cahaya atau low-light. Sobat bisa leluasa memperlebar bukaan lensa daripada menaikkan pengaturan ISO. Ukuran Aperture ini juga memberi keleluasaan dalam penggunaan Depth of Field.

Lens

Memaksimalkan Lensa Prime 50mm

Ketika Sobat sudah memiliki lensa ini, maka langkah selanjutnya adalah belajar bagaimana memaksimalkannya, berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan lensa prime 50mm

Lensa yang cocok dibawa kemanapun.

Lensa 50mm bagus untuk digunakan ketika Sobat bepergian. Focal length ini dirasa nyaman untuk memotret kasual pada kamera full frame, sementara pada kamera APS-C akan membantu kalian mendekat dan mendapatkan detail-detail subyek yang menarik.

Portrait

Lensa 50mm akan efektif pada kamera APS-C sebagai tele pendek, dan sangat ideal untuk foto portrait. Hal ini juga bekerja baik pada kamera full frame, asalkan Sobat tidak merasa terganggu dengan adanya sedikit distorsi yang dihasilkan.

Close-up Photography

Sobat bisa mengombinasikan lensa 50mm dengan Filter/Lensa Close-up atau extention tube untuk mengambil gambar close-up. Sobat juga bisa menggunakan Reverse Ring untuk fotografi makro. Perangkat fotografi tersebut benar-benar bisa memperlebar kemampuan dari lensa tersebut, jika Sobat sudah memiliki lensa prime 50mm  maka ini bisa menjadi solusi murah dibandingkan membeli lensa makro.
Posted by Miftahur Rohman

Memotret Menggunakan Lensa Fixed 50mm F/1.8

Kami sudah mencoba baik itu lensa Nikon 50mm f/1.8D AF Nikkor maupun Canon EF 50mm f/1.8 II, kedua lensa tersebut benar-benar memberikan kualitas foto yang tidak mengecewakan.

 50mm lens - Instant Fave!


Usahakan lensa fix ini selalu menyertai kalian baik memotret menggunakan kamera DSLR Canon maupun NIkon. Meskipun Sobat mungkin sudah memiliki lensa yang lebih bagus, tapi tidak ada salahnya lensa 50mm ini selalu berada di dalam tas kalian. Lensa prime atau fix ini relatif tajam meskipun Sobat memotret dengan bukaan lebar seperti pada aperture f/1.8 sampai f/22.

Lensa 50mm f/1.8 bisa menjadi lensa favorit, jika dikombinasikan bersama sensor DSLR dengan 1.5X atau crop factor lebih tinggi (seperti Nikon D90, Canon 50D, dan kebanyakan camera yang bukan full frame), kalian akan mendapatkan 75mm lensa portrait secara aktual. Jika Sobat menggunakan sensor DSLR full frame, maka akan mendapati seperti lensa standart.

Pada intinya Sobat akan mendapatkan hasil dengan kualitas bagus hanya dengan kisaran harga Satu juta rupiah. Sangat patut dan layak untuk dimiliki bukan?


Contoh diatas merupakan contoh foto bayi yang sedang dijemur dibawah sinar matahari pagi. Kamera yang digunakan adalah Nikon D70s dengan lensa Nikon 50mm f/1.8. Pemotretan dilakukan tanpa menggunakan flash, hand held (tanpa tripod). Ketika masuk ke dalam komputer PC untuk foto tersebut begitu terasa detail serta ketajamannya. Sejak saat itu lensa 50mm selalu menjadi pilihan pertama ketika mengambil foto portrait.

Sisi Positif :
  • Tajam: Fakta yang ada adalah produsen atau manufaktur lensa ini tidak butuh banyak material kaca untuk digunakan sebagai zooming, desain lensa ini fix, dan sangat sederhana.
  • Relatif murah: Harga dari lensa ini hanya berkisar Satu juta rupiah, dengan harga tersebut Sobat sudah bisa memiliki lensa dengan kualitas hasil yang menakjubkan.
  • Kecil dan ringan: Baik lensa prime/fix keluaran Canon atau Nikon memang berukuran kecil dan ringan hanya seukuran 1/2 dari lensa kit.

Sisi Negatif :
  • Tidak ada zoom: Di era fotografi digital saat ini kita memang sangat dimanjakan, pada era film dengan lensa prime/fix, zooming selalu dilakukan dengan menggunakan "kaki".
Posted by Miftahur Rohman

Memaksimalkan Penggunaan Lensa Kit

Lensa merupakan salah satu bagian paling penting pada peralatan kamera yang Sobat miliki. Sebuah lensa yang baik  dan terawat pastinya akan bertahan lama dan umurnya akan melebihi bodi kamera, itu sebabnya beberapa pendapat menghimbau agar berinvestasilah pada lensa, dan bukan pada bodi kamera. Bahkan Sobat pasti telah banyak menemui artikel-artikel yang menulis tentang lensa mana yang harus Sobat beli di dalam dunia fotografi.


Just Kit Lens


Seperti kebanyakan fotografer, ketika Sobat pertama kali membeli kamera yang 'sesungguhnya' (kamera yang bisa diganti lensa) tentunya akan mendapatkan satu lensa kit bawaan (Lensa Canon EF-S 18-55mm IS II). Kebanyakan lensa kit tidaklah mahal. Hal ini bisa dimengerti karena produsen juga mempertimbangkan harga sebuah set kamera yang beredar di pasaran, bagaimana produk mereka bisa bersaing dengan produk-produk lain dengan mem-bundling sebuah kamera yang jauh dari kata mahal. Sobat pasti memulai dunia fotografi dengan menggunakan lensa kit, dan tentunya sobat bisa membeli lensa yang memiliki kualitas yang lebih bagus ketika Sobat sudah berkembang dalam dunia fotografi kalian.
Jika Sobat hanya memiliki sebuah lensa kit, apakah menurut kalian berarti harus belanja lensa yang lebih bagus saat ini juga? menurut kami tidak harus! Tak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain, atau seberapa besar keinginan Sobat terhadap lensa-lensa mahal tersebut! Lensa kit yang Sobat miliki adalah perangkat yang tepat untuk memulai menciptakan style fotografi kalian. Jika Sobat dalam kondisi keuangan yang tidak memungkinkan membeli lensa lain, atau Sobat masih belum tahu lensa apa yang akan dibeli, jangan bingung. Kalian akan terkejut atas apa yang bisa dilakukan serta dihasilkan oleh lensa kit, tentunya setelah Sobat tahu dan mengerti bagaimana memaksimalkan lensa tersebut.

Foto-foto tersebut diambil dengan menggunakan lensa kit nikon Nikon 18-55mm f/3.5 - 5.6G dan kamera D70s. Hal yang sama juga dialami banyak fotografer, pada saat awal menekuni dunia fotografi dan tidak tahu lensa apa yang harus dibeli, mereka memutuskan untuk tetap memakai lensa kit mereka dan mencoba meng-eksplorasi apa yang bisa dilakukan oleh lensa tersebut, dan Sobat bisa melihat sendiri, tidak mengecewakan bukan?

Memang Sobat akan segera menyadari bahwa lensa kit bukan lah lensa yang bagus, terutama untuk sebuah publikasi foto di khalayak ramai, tetapi poin yang ingin kami sampaikan adalah, lensa kit cukup bagus untuk memulai dunia fotografi kalian.

 

Memaksimalkan Lensa Kit

Jadi, bagaimana kalian menghasilkan foto terbaik dari lensa kit yang Sobat miliki? Pendekatan paling bagus adalah dengan membangun pola pikir bahwa Sobat memiliki dua lensa dalam satu lensa kit tersebut. Jika Sobat memiliki lensa kit tipikal seperti 18-55mm, maka berlakukan lensa tersebut sebagai lensa 18mm dan 55mm yang tergabung menjadi Satu. ukuran focal lenth 18mm bisa dikatakan adalah moderat wide-angle yang bagus untuk foto landscape, arsitektur, serta environment. 55mm adalah lensa tele pendek yang ideal untuk mengkompresi prespektif dan mengambil foto potret atau detail

Pernyataan diatas tidak berarti lalu Sobat tidak bisa menggunakan focal length yang beradara diantara 18 dan 55mm, ada banyak kesempatan dimana kalian harus menggunakan ukuran focal length tersebut, tetapi dengan tetap bertahan pada dua ukuran tersebut (focal length terpendek dan terpanjang) kalian akan belajar bagaimana perilaku ukuran focal length tersebut. Lensa merupakan 'mata' dari sistem kamera, dan foto-foto kalian akan mengalami peningkatan seiring sobat belajar tentang karakter dari setiap focal length.

Beberapa lensa kit juga memiliki fitur lain yang sangat berguna. Pada Canon sering disebut dengan Image Stabiliser (IS) dan di Nikon adalah Vibration Reduction (VR) Namun beberapa kamera sudah memiliki fitur ini di dalam bodi kamera itu sendiri. Fitur Image Stabiliser memungkinkan Sobat untuk memotret pada shutter-speed yang rendah, secara teori Anda akan bisa memotret tanpa tripod atau penyanggah pada focal length 18mm dan menghasilkan foto tanpa getaran pada shutter-speed 1/4 atau bahkan 1/2 detik. Fitur ini akan sangat bermanfaat pada saat memotret di low-light atau cahaya minim dan tentunya akan sangat memudahkan memotret di siang dan malam hari.

Peran lensa kit sebagai wide-Angle


Memksimalkan Lensa Kit

Memksimalkan Lensa Kit

Foto diatas diambil dengan menggunakan lensa kit yang berpersan sebagai lensa wide.

Peran Lensa Kit Sebagai Tele Pendek


Memksimalkan Lensa Kit

Foto-foto tersbut di ambil pada focal length 55mm, 

Kekurangan Lensa Kit

Lensa kit yang Sobat miliki mungkin merupakan lensa yang lebih baik daripada yang Sobat pikir, tetapi masih tetap bukan lensa yang bagus dan pastinya memiliki beberapa kekurangan serta kelemahan. Setelah beberapa lama Sobat menggunakan lensa kit, pastinya akan menemui beberapa keterbatasan. bukan hal yang mutlak buruk, ini pertanda bahwa Sobat telah pada tahap dimana Anda memang butuh lensa lain untuk menghasilkan foto yang lebih baik pula. Berikut adalah beberapa keterbatasan dari lensa kit:

Focal Length: Sobat akan merasa bahwa 18mm pada lensa kit kalian tidak terasa cukup lebar, tentunya Sobat butuh focal length yang lebih pendek sehingga bisa menghasilkan foto yang lebih dramatis. Pada kondisi ini, Kalian bisa mulai mempertimbangkan untuk membeli lensa wide-angel baru.

Dilain sisi, jika Sobat merasa focal length 55mm tidak memberikan jarak yang kalian inginkan pada subyek foto, maka Sobat memang membutuhkan sebuah lensa telephoto. Biasanya akan kalian alami jika sobat suka memotret wildlife atau sport.

Autofocus: Autofocus pada lensa kit cenderung lambat dan sedikir berisik dibandingkan lensa-lensa yang lebih mahal, jika performa dari autofocus lensa kit menghambat kalian, mungkin sudah waktunya melakukan upgrade.

Aperture: Lensa kit merupakan lensa yang 'lambat'. Lensa ini tidak memiliki aperture maksimal yang lebar. Alasan sebenarnya sih sederhana: Semakin lebar aperture maksimal maka semakin besar pula bodi lensa, dan ini akan menyebabkan lebih banyak lagi kebutuhan lensa, dan hal itu berarti juga memperbesar ongkos produksi. Lensa kit kebanyakan memiliki lebar maksimal yang terbilang kecil untuk menekan harga dipasaran.

Memksimalkan Lensa Kit

Aperture maksimal pada focal length 55mm di kebanyakan lensa kit adalah f5.6, jika dirasa kurang lebar, Sobat bisa membeli sebuah lensa zoom yang meng-kover focal length yang sama dengan maksimum aperture f4 atau f2.8 atau bisa juga lensa prime / fix 50mm dengan aperture maksimal f1.8 atau lebih. Aperture yang lebih lebar pada lensa ini benar-benar akan membantu sobat untuk memotret dalam kondisi pencahayaan yang rendah atau berkreasi dengan depth-of-field yang sempit.

Kualitas Bodi Lensa: Jika Sobat ingin menguji ketahanan badan lensa atau memotret di kondisi cuaca yang buruk, maka pastinya Sobat akan memerlukan lensa yang dibangun dengan lebih baik dibandingkan lensa kit. Lensa yang lebih mahal biasanya memiliki bodi serta mounting yang terbuat dari logam dan bisa digunakan di cuaca buruk (hujan, salju).
Posted by Miftahur Rohman

Mengenal Flare Lensa

 Memotret langsung berhadapan dengan sumber cahaya memiliki konsekuensi berkurangnya kontras dan saturasi warna foto-foto kalian. Hal ini tentu akan membuat subyek foto Sobat menjadi underexposure dengan background yang overexposure, jika Sobat mengatur exposure pada bagian subyek maka sangat berpotensi memunculkan warna serta bentuk asing yang sering dikenal dengan flare lensa.

lens flare
 


Sebagai seorang fotografer kami yakin bahwa Sobat juga pernah mendapat informasi bahwa memotret berhadapan langsung dengan sumber cahaya adalah cara atau hal yang salah, dan dampak seperti flare lensa adalah hal yang sepatutnya dihindari. Keberadaan flare lensa sangat begitu dihindari sampai-sampai para produsen lensa membuat anti refleksi untuk mengurangi flare lensa seperti: Nikon Nano Crystal.

Prinsip yang sama juga berlaku untuk mendapatkan efek tersebut pada dunia cinematography. Sobat mungkin pernah melihat sebuah film yang menampilkan sebuah gambar panorama yang dihiasi dengan flare lensa di sepanjang frame, bisa dikatakan scene ini sudah sering muncul di film-film hollywood. Jadi bisa dikatakan bahwa: jika flare lensa cukup bagus pada scene film Hollywood, lalu kenapa kita tidak mencoba menambahkannya ke foto-foto kita?

Apa sih sebenarnya flare lensa itu? Jawaban paling sederhana perihal flare lensa adalah cahaya yang masuk dan terpantul diantara elemen kaca yang ada di dalam lensa. Lensa-lensa yang memiliki struktur optik yang rumit cenderung lebih berpotensi menghasilkan flare lensa dibandingkan lensa-lensa sederhana.

Flare lensa bisa diaplikasikan secara efektif di semua bidang fotografi, dari Portrait sampai ke Still Life, Landscape dan lain-lain. Kabar baik tentang efek ini adalah Flare lensa bisa dihasilkan dengan sistem kamera apapun, dari kamera DSLR paling mahal sampai kamera saku termurah. Sobat bisa melihati efek flare lensa ini secara langsung baik itu di view finder atau di lcd kamera.

Membuat flare lensa bisa dikatakan adalah hal yang relatif mudah. Sobat cukup mengkomposisikan gambar menghadap ke sumber cahaya. Sumber cahaya tersebut bisa bermacam-macam seperti: cahaya matahari, lampu jalan, lampu sorot, lampu meja atau bahkan sebuah senter atau flash light.
Posted by Miftahur Rohman

Tips foto orang yang pakai kacamata

Membuat foto orang yang memakai kacamata biasanya mengalami kendala apabila kita mengunakan lampu kilat. Hal ini disebabkan karena cahaya lampu kilat dari depan memantul balik ke kamera. Untuk mencegahnya bacalah tips dibawah ini:
  1. Lepaskan kacamatanya.
  2. Cara lain yaitu melepas lensa dari kacamata (bila Anda memiliki alat dan mengetahui caranya).
  3. Atur pose supaya jangan menghadap sumber cahaya (lampu kilat) secara langsung, tapi lebih menyerong ke kanan atau ke kiri, sehingga pantulannya tidak balik ke lensa tau ke samping.
  4. Geser kacamatanya sehingga mengarah sedikit kebawah, sehingga cahaya dari lampu kilat tidak dipantulkan balik ke lensa tapi ke bawah lensa.
  5. Hindari menembakkan lampu kilat secara langsung, coba memakai teknik bounce (ke langit-langit)
  6. Bila memakai lampu kilat “off camera” (dilepas dari kameranya), maka sebaiknya lampu kilatnya ditempatkan setinggi mungkin sehingga pantulan cahaya ke kacamata terpantul ke bawah tidak lurus ke lensa.
Posted by Miftahur Rohman

Beli lensa atau beli lampu kilat / flash?

 Apa yang saya baca dari blog, facebook jauh lebih banyak yang memprioritaskan lensa daripada lampu kilat. Saya sendiri pada awalnya juga begitu. Dahulu, saya sering ditugaskan sebagai fotografer dokumentasi acara. Saya pikir lensa yang berkualitas tinggi dan berbukaan besar akan bisa memecahkan masalah saya. Tapi lensa sendiri, baik yang kualitasnya tinggi sekalipun, gagal memecahkan masalah saya dalam pencahayaan. Seringkali di ruangan, cahaya lingkungan bercampur baur dari cahaya dari lampu di dalam ruangan yang kadang berwarna tidak sama, dan matahari dari luar yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela. Selain itu, cahaya di dalam ruangan biasanya sangat sedikit, sehingga meski saya mengunakan lensa dengan bukaan sangat besar pun masih harus menaikkan ISO cukup tinggi, akibatnya kualitas foto menurun karena noise yang tinggi dan saturasi warna yang hilang.
Canon Speedlite 430 EX lampu kilat pertama saya yang merupakan investasi yang sangat baik
Canon Speedlite 430 EX lampu kilat pertama saya yang merupakan investasi yang sangat baik
Setelah menghabiskan puluhan juta untuk membeli lensa, akhirnya saya membeli lampu kilat pertama saya yang seharga dua jutaan. Dengan lampu kilat ini, kualitas foto saya secara konsisten meningkat dari acara ke acara.
Dari sini saya menyadari bahwa, mengandalkan lensa dan cahaya lingkungan semata, sering sekali sulit mendapatkan hasil foto sesuai dengan yang kita inginkan. Maka dari itu, lampu kilat merupakan suatu investasi yang sangat baik untuk saya.
Beberapa tahun belakangan ini, saya semakin menyadari bahwa dengan mengunakan lampu kilat, saya bisa belajar banyak tentang pencahayaan (salah satu pilar utama fotografi) dan saya berharap membeli lampu kilat jauh-jauh hari sebelumnya.
Lalu kenapa sebagian besar dari kita berbondong-bondong memilih lensa berkualitas tinggi daripada lampu kilat? Ada beberapa asumsi yang terbersit di benak saya diantaranya:
  • Lampu kilat apalagi lampu studio itu mahal
  • Lampu kilat susah dipakai (tekniknya sulit dipelajari)
  • Sulit mendapatkan foto yang alami dengan lampu kilat

Sebenarnya asumsi itu tidak semuanya benar, misalnya lampu kilat itu sebenarnya tidak begitu mahal relatif dibandingkan dengan lensa dengan kualitas tinggi yang lebih dari 10 juta rupiah. Dengan 10 juta, Anda bisa mendapatkan 2 set lampu studio lengkap dengan payung, tas, dan sebagainya (buatan Cina tentunya hehe). Lampu kilat portable (yang bisa dipasang di atas kamera) rata-rata hanya dua jutaan per lampu.

Lalu, apakah lampu kilat susah dipakai? Nah untuk yang ini saya rasa ada benarnya. Bila kita mengunakan lampu kilat, eksposur cahaya tidak hanya bergantung pada bukaan, shutter speed dan ISO saja, tapi sudah ada variabel baru yaitu kekuatan flash, jarak flash terhadap subjek dan overlap antara cahaya flash dan cahaya lingkungan.
Dan apakah memakai flash membuat foto kelihatan tidak alami? Nah ini tergantung, flash bisa merusak foto bila tidak digunakan dengan baik, tapi akan menjadi luar biasa bila digunakan dengan benar. Untuk ini memang harus di pelajari tekniknya (lihat poin diatas).
Balik ke topik utama
Siapa yang memerlukan lensa, siapa memerlukan flash? Saya pikir ini balik lagi ke kepribadian dan jenis foto yang disukai:
  • Bila Anda menyukai suka foto di luar ruangan secara alami seperti pemandangan/landscape, street photography maka kemungkinan besar flash bukan aksesoris yang penting. Aksesoris seperti tripod yang kokoh, atau filter yang berkualitas mungkin lebih penting.
  • Bila Anda menyukai bekerja di dalam ruangan (studio) sehingga bisa bekerja kapan saja baik siang, malam, subuh, dan menyukai kemampuan mengendalikan pencahayaan secara total maka investasi ke sistem lampu kilat lah yang lebih penting daripada lensa.
  • Ada juga yang suka-dua-duanya atau campuran, yaitu fotografer yang menyukai mengunakan cahaya alami dan dipadu dengan lampu kilat. Untuk golongan ini, saya sarankan untuk mengatur dana yang cukup seimbang untuk lensa dan lampu kilat.
Posted by Miftahur Rohman

Panduan memilih flash ori atau non-original

flash Ori
Flas Non Ori
Salah satu alat yang sangat membantu untuk meningkatkan fotografi kita adalah lampu kilat eksternal. Lampu kilat eksternal bisa membantu kita bukan hanya di kondisi cahaya yang sulit, tapi juga membantu kita mewujudkan visi kreatif pencahayaan kita.
Bagi pemula, flash mungkin sebuah hal yang asing, maka itu perlu sedikit wawasan sebelum membeli flash. Di pasaran, ada flash yang mereknya sama dengan merek kamera, misalnya Canon, Nikon, Sony, (yang akan saya sebut versi original /ori) dan juga banyak flash buatan pihak ketiga seperti dari Cina seperti YongNuo dan Nissin.
Beda flash yang ori dengan non-ori biasanya terletak pada harga dan kontrol kualitas (QC). Produk ori memiliki QC yang lebih ketat namun harganya bisa berlipat lebih mahal karena penjualannya melalui sistem distribusi tradisional yaitu dari pabrik->distributor besar-> distributor grosiran/dealer/agen ->pengecer sehingga jatuhnya ke pelanggan mahal. Sedangkan sistem distribusi seperti produk non-ori biasanya langsung didistribusikan oleh pabrik langsung ke pengecer atau pelanggan, sehingga jatuhnya lebih murah.
Kelebihan lain produk ori yaitu terletak pada teknologi yang dipakai biasanya up-to date dengan teknologi kamera, dan juga memperhatikan kompatibilitas dengan banyak produk di masa lalu dan di masa depan, sedangkan yang non-ori sering berubah-ubah setiap tahun sehingga aksesoris yang dibeli saat ini, satu, dua tahun lagi saat ganti kamera mungkin sudah tidak kompatibel lagi dan harus membeli versi barunya. Hasil dari flash ori juga lebih konsisten dan akurat.
Bagi mempunyai budget rendah, tapi membutuhkan flash, sepertinya merek non-ori bisa menjadi andalan, tapi bila yang memiliki dana lebih, tidak ada salahnya membeli yang ori, karena lebih tahan banting, layanan purna jual lebih baik dan juga hasil lebih konsisten. Bila ingin membeli beberapa lampu kilat, sebaiknya memilih merek atau model yang sama karena hasilnya akan lebih konsisten dari suhu warna cahaya dan output. Selamat menimbang-nimbang.
Posted by Miftahur Rohman

Manfaatkan flash untuk membekukan subjek foto

Kita kadang frustasi waktu cahaya lingkungan kurang sehingga kita kesulitan untuk mendapatkan shutter speed tinggi untuk membekukan subjek foto. Bila kita ketemu saat-saat seperti itu, kita bisa mengunakan lampu kilat (baik di kamera maupun speedlites eksternal).
Lampu kilat memiliki flash duration yang cukup singkat, biasanya hanya 1/1000-1/20000 detik. Flash duration itu adalah lamanya lampu kilat bersinar menerangi subjek foto.
Nah karena durasi cahaya yang singkat, maka subjek foto kita bisa menjadi beku meskipun shutter speed yang kita pilih relatif pelan (misalnya 1/60 detik) di kondisi lingkungan yang agak gelap.
Di lingkungan yang terang benderang seperti di luar ruangan di bawah sinar matahari, trik ini tidak berlaku karena shutter speed yang lambat malahan akan menangkap gerakan subjek foto, bukan membekukannya.
Oleh sebab itu, kalau misalnya kita ingin membekukan subjek foto di kondisi lingkungan yang relatif gelap, kita bisa memanfaatkan lampu kilat.
Oleh Tomas Sobek - CC

Posted by Miftahur Rohman

Welcome Message

Category

Artikel Terkait

Tweets

Download Mp3

- Copyright © Tempatku Belajar -Santri Krapyak- Powered by Blogger