Memaksimalkan Penggunaan Lensa Kit
Lensa merupakan salah satu bagian paling penting pada peralatan kamera yang Sobat miliki. Sebuah lensa yang baik dan terawat pastinya akan bertahan lama dan umurnya akan melebihi bodi kamera, itu sebabnya beberapa pendapat menghimbau agar berinvestasilah pada lensa, dan bukan pada bodi kamera. Bahkan Sobat pasti telah banyak menemui artikel-artikel yang menulis tentang lensa mana yang harus Sobat beli di dalam dunia fotografi.
Seperti kebanyakan fotografer, ketika Sobat pertama kali membeli kamera yang 'sesungguhnya' (kamera yang bisa diganti lensa) tentunya akan mendapatkan satu lensa kit bawaan (Lensa Canon EF-S 18-55mm IS II). Kebanyakan lensa kit tidaklah mahal. Hal ini bisa dimengerti karena produsen juga mempertimbangkan harga sebuah set kamera yang beredar di pasaran, bagaimana produk mereka bisa bersaing dengan produk-produk lain dengan mem-bundling sebuah kamera yang jauh dari kata mahal. Sobat pasti memulai dunia fotografi dengan menggunakan lensa kit, dan tentunya sobat bisa membeli lensa yang memiliki kualitas yang lebih bagus ketika Sobat sudah berkembang dalam dunia fotografi kalian.
Jika Sobat hanya memiliki sebuah lensa kit, apakah menurut kalian berarti harus belanja lensa yang lebih bagus saat ini juga?
menurut kami tidak harus! Tak peduli apa yang dikatakan oleh orang
lain, atau seberapa besar keinginan Sobat terhadap lensa-lensa mahal
tersebut! Lensa kit yang Sobat miliki adalah perangkat yang tepat untuk
memulai menciptakan style fotografi kalian. Jika Sobat dalam kondisi
keuangan yang tidak memungkinkan membeli lensa lain, atau Sobat masih
belum tahu lensa apa yang akan dibeli, jangan bingung. Kalian akan
terkejut atas apa yang bisa dilakukan serta dihasilkan oleh lensa kit,
tentunya setelah Sobat tahu dan mengerti bagaimana memaksimalkan lensa
tersebut.
Foto-foto tersebut diambil dengan menggunakan lensa kit nikon Nikon 18-55mm f/3.5 - 5.6G dan kamera D70s. Hal yang sama juga dialami banyak fotografer, pada saat awal menekuni dunia fotografi dan tidak tahu lensa apa yang harus dibeli, mereka memutuskan untuk tetap memakai lensa kit mereka dan mencoba meng-eksplorasi apa yang bisa dilakukan oleh lensa tersebut, dan Sobat bisa melihat sendiri, tidak mengecewakan bukan?
Memang Sobat akan segera menyadari bahwa lensa kit bukan lah lensa yang
bagus, terutama untuk sebuah publikasi foto di khalayak ramai, tetapi
poin yang ingin kami sampaikan adalah, lensa kit cukup bagus untuk
memulai dunia fotografi kalian.
Memaksimalkan Lensa Kit
Jadi, bagaimana kalian menghasilkan foto terbaik dari lensa kit yang
Sobat miliki? Pendekatan paling bagus adalah dengan membangun pola pikir
bahwa Sobat memiliki dua lensa dalam satu lensa kit tersebut. Jika
Sobat memiliki lensa kit tipikal seperti 18-55mm, maka berlakukan lensa
tersebut sebagai lensa 18mm dan 55mm yang tergabung menjadi Satu. ukuran
focal lenth 18mm bisa dikatakan adalah moderat wide-angle yang bagus
untuk foto landscape, arsitektur, serta environment. 55mm adalah lensa
tele pendek yang ideal untuk mengkompresi prespektif dan mengambil foto
potret atau detail
Pernyataan diatas tidak berarti lalu Sobat tidak bisa menggunakan focal
length yang beradara diantara 18 dan 55mm, ada banyak kesempatan dimana
kalian harus menggunakan ukuran focal length tersebut, tetapi dengan
tetap bertahan pada dua ukuran tersebut (focal length terpendek dan
terpanjang) kalian akan belajar bagaimana perilaku ukuran focal length
tersebut. Lensa merupakan 'mata' dari sistem kamera, dan foto-foto
kalian akan mengalami peningkatan seiring sobat belajar tentang karakter
dari setiap focal length.
Beberapa lensa kit juga memiliki fitur lain yang sangat berguna. Pada
Canon sering disebut dengan Image Stabiliser (IS) dan di Nikon adalah
Vibration Reduction (VR) Namun beberapa kamera sudah memiliki fitur ini
di dalam bodi kamera itu sendiri. Fitur Image Stabiliser memungkinkan
Sobat untuk memotret pada shutter-speed yang rendah,
secara teori Anda akan bisa memotret tanpa tripod atau penyanggah pada
focal length 18mm dan menghasilkan foto tanpa getaran pada shutter-speed
1/4 atau bahkan 1/2 detik. Fitur ini akan sangat bermanfaat pada saat
memotret di low-light atau cahaya minim dan tentunya akan sangat
memudahkan memotret di siang dan malam hari.
Peran lensa kit sebagai wide-Angle
Foto diatas diambil dengan menggunakan lensa kit yang berpersan sebagai lensa wide.
Peran Lensa Kit Sebagai Tele Pendek
Foto-foto tersbut di ambil pada focal length 55mm,
Kekurangan Lensa Kit
Lensa kit yang Sobat miliki mungkin merupakan lensa yang lebih baik
daripada yang Sobat pikir, tetapi masih tetap bukan lensa yang bagus dan
pastinya memiliki beberapa kekurangan serta kelemahan. Setelah beberapa
lama Sobat menggunakan lensa kit, pastinya akan menemui beberapa
keterbatasan. bukan hal yang mutlak buruk, ini pertanda bahwa Sobat
telah pada tahap dimana Anda memang butuh lensa lain untuk menghasilkan
foto yang lebih baik pula. Berikut adalah beberapa keterbatasan dari
lensa kit:
Focal Length: Sobat akan merasa bahwa 18mm pada lensa kit kalian
tidak terasa cukup lebar, tentunya Sobat butuh focal length yang lebih
pendek sehingga bisa menghasilkan foto yang lebih dramatis. Pada kondisi
ini, Kalian bisa mulai mempertimbangkan untuk membeli lensa wide-angel
baru.
Dilain sisi, jika Sobat merasa focal length 55mm tidak memberikan jarak
yang kalian inginkan pada subyek foto, maka Sobat memang membutuhkan
sebuah lensa telephoto. Biasanya akan kalian alami jika sobat suka
memotret wildlife atau sport.
Autofocus: Autofocus pada lensa kit cenderung lambat dan sedikir
berisik dibandingkan lensa-lensa yang lebih mahal, jika performa dari
autofocus lensa kit menghambat kalian, mungkin sudah waktunya melakukan
upgrade.
Aperture: Lensa kit merupakan lensa yang 'lambat'. Lensa ini
tidak memiliki aperture maksimal yang lebar. Alasan sebenarnya sih
sederhana: Semakin lebar aperture
maksimal maka semakin besar pula bodi lensa, dan ini akan menyebabkan
lebih banyak lagi kebutuhan lensa, dan hal itu berarti juga memperbesar
ongkos produksi. Lensa kit kebanyakan memiliki lebar maksimal yang
terbilang kecil untuk menekan harga dipasaran.
Aperture maksimal pada focal length 55mm di kebanyakan lensa kit adalah
f5.6, jika dirasa kurang lebar, Sobat bisa membeli sebuah lensa zoom
yang meng-kover focal length yang sama dengan maksimum aperture f4 atau
f2.8 atau bisa juga lensa prime / fix 50mm dengan aperture maksimal f1.8
atau lebih. Aperture yang lebih lebar pada lensa ini benar-benar akan
membantu sobat untuk memotret dalam kondisi pencahayaan yang rendah atau
berkreasi dengan depth-of-field yang sempit.
Mengenal Flare Lensa
Memotret langsung berhadapan dengan sumber cahaya memiliki konsekuensi
berkurangnya kontras dan saturasi warna foto-foto kalian. Hal ini tentu
akan membuat subyek foto Sobat menjadi underexposure dengan background
yang overexposure, jika Sobat mengatur exposure pada bagian subyek maka sangat berpotensi memunculkan warna serta bentuk asing yang sering dikenal dengan flare lensa.
Sebagai seorang fotografer kami yakin bahwa Sobat juga pernah mendapat informasi bahwa memotret berhadapan langsung dengan sumber cahaya adalah cara atau hal yang salah, dan dampak seperti flare lensa adalah hal yang sepatutnya dihindari. Keberadaan flare lensa sangat begitu dihindari sampai-sampai para produsen lensa membuat anti refleksi untuk mengurangi flare lensa seperti: Nikon Nano Crystal.
Prinsip yang sama juga berlaku untuk mendapatkan efek tersebut pada dunia cinematography. Sobat mungkin pernah melihat sebuah film yang menampilkan sebuah gambar panorama yang dihiasi dengan flare lensa di sepanjang frame, bisa dikatakan scene ini sudah sering muncul di film-film hollywood. Jadi bisa dikatakan bahwa: jika flare lensa cukup bagus pada scene film Hollywood, lalu kenapa kita tidak mencoba menambahkannya ke foto-foto kita?
Apa sih sebenarnya flare lensa itu? Jawaban paling sederhana perihal flare lensa adalah cahaya yang masuk dan terpantul diantara elemen kaca yang ada di dalam lensa. Lensa-lensa yang memiliki struktur optik yang rumit cenderung lebih berpotensi menghasilkan flare lensa dibandingkan lensa-lensa sederhana.
Flare lensa bisa diaplikasikan secara efektif di semua bidang fotografi, dari Portrait sampai ke Still Life, Landscape dan lain-lain. Kabar baik tentang efek ini adalah Flare lensa bisa dihasilkan dengan sistem kamera apapun, dari kamera DSLR paling mahal sampai kamera saku termurah. Sobat bisa melihati efek flare lensa ini secara langsung baik itu di view finder atau di lcd kamera.
Membuat flare lensa bisa dikatakan adalah hal yang relatif mudah. Sobat cukup mengkomposisikan gambar menghadap ke sumber cahaya. Sumber cahaya tersebut bisa bermacam-macam seperti: cahaya matahari, lampu jalan, lampu sorot, lampu meja atau bahkan sebuah senter atau flash light.
Tips foto orang yang pakai kacamata
Membuat foto orang yang memakai kacamata biasanya mengalami kendala
apabila kita mengunakan lampu kilat. Hal ini disebabkan karena cahaya
lampu kilat dari depan memantul balik ke kamera. Untuk mencegahnya
bacalah tips dibawah ini:
- Lepaskan kacamatanya.
- Cara lain yaitu melepas lensa dari kacamata (bila Anda memiliki alat dan mengetahui caranya).
- Atur pose supaya jangan menghadap sumber cahaya (lampu kilat) secara langsung, tapi lebih menyerong ke kanan atau ke kiri, sehingga pantulannya tidak balik ke lensa tau ke samping.
- Geser kacamatanya sehingga mengarah sedikit kebawah, sehingga cahaya dari lampu kilat tidak dipantulkan balik ke lensa tapi ke bawah lensa.
- Hindari menembakkan lampu kilat secara langsung, coba memakai teknik bounce (ke langit-langit)
- Bila memakai lampu kilat “off camera” (dilepas dari kameranya), maka sebaiknya lampu kilatnya ditempatkan setinggi mungkin sehingga pantulan cahaya ke kacamata terpantul ke bawah tidak lurus ke lensa.
Beli lensa atau beli lampu kilat / flash?
Apa yang saya baca dari blog, facebook
jauh lebih banyak yang memprioritaskan lensa daripada lampu kilat. Saya
sendiri pada awalnya juga begitu. Dahulu, saya sering ditugaskan
sebagai fotografer dokumentasi acara. Saya pikir lensa yang berkualitas
tinggi dan berbukaan besar akan bisa memecahkan masalah saya. Tapi lensa
sendiri, baik yang kualitasnya tinggi sekalipun, gagal memecahkan
masalah saya dalam pencahayaan.
Seringkali di ruangan, cahaya lingkungan bercampur baur dari cahaya
dari lampu di dalam ruangan yang kadang berwarna tidak sama, dan
matahari dari luar yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela. Selain
itu, cahaya di dalam ruangan biasanya sangat sedikit, sehingga meski
saya mengunakan lensa dengan bukaan sangat besar pun masih harus
menaikkan ISO cukup tinggi, akibatnya kualitas foto menurun karena noise
yang tinggi dan saturasi warna yang hilang.
Setelah menghabiskan puluhan juta untuk membeli lensa, akhirnya saya
membeli lampu kilat pertama saya yang seharga dua jutaan. Dengan lampu
kilat ini, kualitas foto saya secara konsisten meningkat dari acara ke
acara.
Dari sini saya menyadari bahwa, mengandalkan lensa dan cahaya lingkungan semata, sering sekali sulit mendapatkan hasil foto sesuai dengan yang kita inginkan. Maka dari itu, lampu kilat merupakan suatu investasi yang sangat baik untuk saya.
Beberapa tahun belakangan ini, saya semakin menyadari bahwa dengan mengunakan lampu kilat, saya bisa belajar banyak tentang pencahayaan (salah satu pilar utama fotografi) dan saya berharap membeli lampu kilat jauh-jauh hari sebelumnya.
Lalu kenapa sebagian besar dari kita berbondong-bondong memilih lensa berkualitas tinggi daripada lampu kilat? Ada beberapa asumsi yang terbersit di benak saya diantaranya:
Sebenarnya asumsi itu tidak semuanya benar, misalnya lampu kilat itu sebenarnya tidak begitu mahal relatif dibandingkan dengan lensa dengan kualitas tinggi yang lebih dari 10 juta rupiah. Dengan 10 juta, Anda bisa mendapatkan 2 set lampu studio lengkap dengan payung, tas, dan sebagainya (buatan Cina tentunya hehe). Lampu kilat portable (yang bisa dipasang di atas kamera) rata-rata hanya dua jutaan per lampu.
Lalu, apakah lampu kilat susah dipakai? Nah untuk yang ini saya rasa ada benarnya. Bila kita mengunakan lampu kilat, eksposur cahaya tidak hanya bergantung pada bukaan, shutter speed dan ISO saja, tapi sudah ada variabel baru yaitu kekuatan flash, jarak flash terhadap subjek dan overlap antara cahaya flash dan cahaya lingkungan.
Dan apakah memakai flash membuat foto kelihatan tidak alami? Nah ini tergantung, flash bisa merusak foto bila tidak digunakan dengan baik, tapi akan menjadi luar biasa bila digunakan dengan benar. Untuk ini memang harus di pelajari tekniknya (lihat poin diatas).
Balik ke topik utama
Siapa yang memerlukan lensa, siapa memerlukan flash? Saya pikir ini balik lagi ke kepribadian dan jenis foto yang disukai:
Canon Speedlite 430 EX lampu kilat pertama saya yang merupakan investasi yang sangat baik
Dari sini saya menyadari bahwa, mengandalkan lensa dan cahaya lingkungan semata, sering sekali sulit mendapatkan hasil foto sesuai dengan yang kita inginkan. Maka dari itu, lampu kilat merupakan suatu investasi yang sangat baik untuk saya.
Beberapa tahun belakangan ini, saya semakin menyadari bahwa dengan mengunakan lampu kilat, saya bisa belajar banyak tentang pencahayaan (salah satu pilar utama fotografi) dan saya berharap membeli lampu kilat jauh-jauh hari sebelumnya.
Lalu kenapa sebagian besar dari kita berbondong-bondong memilih lensa berkualitas tinggi daripada lampu kilat? Ada beberapa asumsi yang terbersit di benak saya diantaranya:
- Lampu kilat apalagi lampu studio itu mahal
- Lampu kilat susah dipakai (tekniknya sulit dipelajari)
- Sulit mendapatkan foto yang alami dengan lampu kilat
Sebenarnya asumsi itu tidak semuanya benar, misalnya lampu kilat itu sebenarnya tidak begitu mahal relatif dibandingkan dengan lensa dengan kualitas tinggi yang lebih dari 10 juta rupiah. Dengan 10 juta, Anda bisa mendapatkan 2 set lampu studio lengkap dengan payung, tas, dan sebagainya (buatan Cina tentunya hehe). Lampu kilat portable (yang bisa dipasang di atas kamera) rata-rata hanya dua jutaan per lampu.
Lalu, apakah lampu kilat susah dipakai? Nah untuk yang ini saya rasa ada benarnya. Bila kita mengunakan lampu kilat, eksposur cahaya tidak hanya bergantung pada bukaan, shutter speed dan ISO saja, tapi sudah ada variabel baru yaitu kekuatan flash, jarak flash terhadap subjek dan overlap antara cahaya flash dan cahaya lingkungan.
Dan apakah memakai flash membuat foto kelihatan tidak alami? Nah ini tergantung, flash bisa merusak foto bila tidak digunakan dengan baik, tapi akan menjadi luar biasa bila digunakan dengan benar. Untuk ini memang harus di pelajari tekniknya (lihat poin diatas).
Balik ke topik utama
Siapa yang memerlukan lensa, siapa memerlukan flash? Saya pikir ini balik lagi ke kepribadian dan jenis foto yang disukai:
- Bila Anda menyukai suka foto di luar ruangan secara alami seperti pemandangan/landscape, street photography maka kemungkinan besar flash bukan aksesoris yang penting. Aksesoris seperti tripod yang kokoh, atau filter yang berkualitas mungkin lebih penting.
- Bila Anda menyukai bekerja di dalam ruangan (studio) sehingga bisa bekerja kapan saja baik siang, malam, subuh, dan menyukai kemampuan mengendalikan pencahayaan secara total maka investasi ke sistem lampu kilat lah yang lebih penting daripada lensa.
- Ada juga yang suka-dua-duanya atau campuran, yaitu fotografer yang menyukai mengunakan cahaya alami dan dipadu dengan lampu kilat. Untuk golongan ini, saya sarankan untuk mengatur dana yang cukup seimbang untuk lensa dan lampu kilat.
Panduan memilih flash ori atau non-original
Salah satu alat yang sangat membantu untuk meningkatkan fotografi kita adalah lampu kilat eksternal.
Lampu kilat eksternal bisa membantu kita bukan hanya di kondisi cahaya
yang sulit, tapi juga membantu kita mewujudkan visi kreatif pencahayaan
kita.
Bagi pemula, flash mungkin sebuah hal yang asing, maka itu perlu sedikit wawasan sebelum membeli flash. Di pasaran, ada flash yang mereknya sama dengan merek kamera, misalnya Canon, Nikon, Sony, (yang akan saya sebut versi original /ori) dan juga banyak flash buatan pihak ketiga seperti dari Cina seperti YongNuo dan Nissin.
Beda flash yang ori dengan non-ori biasanya terletak pada harga dan kontrol kualitas (QC). Produk ori memiliki QC yang lebih ketat namun harganya bisa berlipat lebih mahal karena penjualannya melalui sistem distribusi tradisional yaitu dari pabrik->distributor besar-> distributor grosiran/dealer/agen ->pengecer sehingga jatuhnya ke pelanggan mahal. Sedangkan sistem distribusi seperti produk non-ori biasanya langsung didistribusikan oleh pabrik langsung ke pengecer atau pelanggan, sehingga jatuhnya lebih murah.
Kelebihan lain produk ori yaitu terletak pada teknologi yang dipakai biasanya up-to date dengan teknologi kamera, dan juga memperhatikan kompatibilitas dengan banyak produk di masa lalu dan di masa depan, sedangkan yang non-ori sering berubah-ubah setiap tahun sehingga aksesoris yang dibeli saat ini, satu, dua tahun lagi saat ganti kamera mungkin sudah tidak kompatibel lagi dan harus membeli versi barunya. Hasil dari flash ori juga lebih konsisten dan akurat.
Bagi mempunyai budget rendah, tapi membutuhkan flash, sepertinya merek non-ori bisa menjadi andalan, tapi bila yang memiliki dana lebih, tidak ada salahnya membeli yang ori, karena lebih tahan banting, layanan purna jual lebih baik dan juga hasil lebih konsisten. Bila ingin membeli beberapa lampu kilat, sebaiknya memilih merek atau model yang sama karena hasilnya akan lebih konsisten dari suhu warna cahaya dan output. Selamat menimbang-nimbang.
Bagi pemula, flash mungkin sebuah hal yang asing, maka itu perlu sedikit wawasan sebelum membeli flash. Di pasaran, ada flash yang mereknya sama dengan merek kamera, misalnya Canon, Nikon, Sony, (yang akan saya sebut versi original /ori) dan juga banyak flash buatan pihak ketiga seperti dari Cina seperti YongNuo dan Nissin.
Beda flash yang ori dengan non-ori biasanya terletak pada harga dan kontrol kualitas (QC). Produk ori memiliki QC yang lebih ketat namun harganya bisa berlipat lebih mahal karena penjualannya melalui sistem distribusi tradisional yaitu dari pabrik->distributor besar-> distributor grosiran/dealer/agen ->pengecer sehingga jatuhnya ke pelanggan mahal. Sedangkan sistem distribusi seperti produk non-ori biasanya langsung didistribusikan oleh pabrik langsung ke pengecer atau pelanggan, sehingga jatuhnya lebih murah.
Kelebihan lain produk ori yaitu terletak pada teknologi yang dipakai biasanya up-to date dengan teknologi kamera, dan juga memperhatikan kompatibilitas dengan banyak produk di masa lalu dan di masa depan, sedangkan yang non-ori sering berubah-ubah setiap tahun sehingga aksesoris yang dibeli saat ini, satu, dua tahun lagi saat ganti kamera mungkin sudah tidak kompatibel lagi dan harus membeli versi barunya. Hasil dari flash ori juga lebih konsisten dan akurat.
Bagi mempunyai budget rendah, tapi membutuhkan flash, sepertinya merek non-ori bisa menjadi andalan, tapi bila yang memiliki dana lebih, tidak ada salahnya membeli yang ori, karena lebih tahan banting, layanan purna jual lebih baik dan juga hasil lebih konsisten. Bila ingin membeli beberapa lampu kilat, sebaiknya memilih merek atau model yang sama karena hasilnya akan lebih konsisten dari suhu warna cahaya dan output. Selamat menimbang-nimbang.
Manfaatkan flash untuk membekukan subjek foto
Kita kadang frustasi waktu cahaya lingkungan kurang sehingga kita
kesulitan untuk mendapatkan shutter speed tinggi untuk membekukan subjek
foto. Bila kita ketemu saat-saat seperti itu, kita bisa mengunakan
lampu kilat (baik di kamera maupun speedlites eksternal).
Lampu kilat memiliki flash duration yang cukup singkat, biasanya hanya 1/1000-1/20000 detik. Flash duration itu adalah lamanya lampu kilat bersinar menerangi subjek foto.
Nah karena durasi cahaya yang singkat, maka subjek foto kita bisa menjadi beku meskipun shutter speed yang kita pilih relatif pelan (misalnya 1/60 detik) di kondisi lingkungan yang agak gelap.
Di lingkungan yang terang benderang seperti di luar ruangan di bawah sinar matahari, trik ini tidak berlaku karena shutter speed yang lambat malahan akan menangkap gerakan subjek foto, bukan membekukannya.
Oleh sebab itu, kalau misalnya kita ingin membekukan subjek foto di kondisi lingkungan yang relatif gelap, kita bisa memanfaatkan lampu kilat.
Lampu kilat memiliki flash duration yang cukup singkat, biasanya hanya 1/1000-1/20000 detik. Flash duration itu adalah lamanya lampu kilat bersinar menerangi subjek foto.
Nah karena durasi cahaya yang singkat, maka subjek foto kita bisa menjadi beku meskipun shutter speed yang kita pilih relatif pelan (misalnya 1/60 detik) di kondisi lingkungan yang agak gelap.
Di lingkungan yang terang benderang seperti di luar ruangan di bawah sinar matahari, trik ini tidak berlaku karena shutter speed yang lambat malahan akan menangkap gerakan subjek foto, bukan membekukannya.
Oleh sebab itu, kalau misalnya kita ingin membekukan subjek foto di kondisi lingkungan yang relatif gelap, kita bisa memanfaatkan lampu kilat.
Tips untuk foto grup / Keluarga
Mengapa tidak mengabadikan momen ini untuk foto
keluarga?
Supaya foto keluarganya keren, ada beberapa tips untuk teknik fotonya1. Posisi kamera jangan terlalu dekat dengan subjeknya
Karena bila terlalu dekat, maka terpaksa kita akan zoom out atau memakai lensa yang terlalu lebar karena bila terlalu lebar, maka bentuk muka orang yang berada di pinggir akan distorsi / berubah bentuk. Bila tempat memungkinkan, usahakan memakai fokal lensa minimal 30-50mm.
2. Atur orang-orang dalam kelompok supaya berdekatan
Tujuannya supaya komposisinya lebih bagus dan tidak ada celah-celah antar orang. Selain itu juga berguna untuk membantu pemerataan distribusi cahaya bila memakai lampu kilat. Tapi awas bila terlalu dekat, ada potensi ada orang-orang yang tertutup bayangan.
3. Komposisi segitiga
Komposisi foto grup merupakan salah satu faktor penting yang membuat foto terlihat lebih baik. Salah satu komposisi yang saya pikir solid, adalah segitiga. Caranya, kita mengatur orang yang berpostur paling tinggi di tengah kemudian yang paling pendek di bagian pinggir.
4. Menyeimbangkan cahaya lingkungan dengan flash
Bila di dalam ruangan yang agak gelap, dan kita terpaksa mengunakan lampu kilat, jangan lupa untuk menyeimbangkan cahaya flash dengan ruangan. Bila tidak diseimbangkan, latar belakang akan terlalu gelap dan suasananya akan hilang. Caranya tidak susah, yaitu dengan melambatkan shutter speed sehingga cahaya lingkungan bisa terekam. Saat memakai shutter speed yang relatif lambat, jangan lupa memegang kamera dengan steady atau mengunakan penyangga seperti tripod.
5. Pakai teknik pantul
Bila memakai flash eksternal yang bisa diputar kepalanya, kita kemungkinan bisa mengunakan teknik pantul. Bila langit-langit berwarna putih dan tidak terlalu tinggi, kita bisa memantulkan cahaya sehingga cahaya yang jatuh ke subjek foto lembut.
6. Memisahkan flash dengan kamera
Lebih baik lagi bila kita bisa memisahkan flash dengan kamera. Dengan memisahkan flash dengan kamera, kita bisa mengarahkan cahaya sehingga wajah tampak berdimensi. Bila kita merasa cahaya yang jatuh terlalu keras, kita bisa memanfaatkan payung fotografi.
8. Di luar ruangan, cari tempat teduh
Bila kita berada di luar ruangan, jangan lupa mencari tempat yang teduh bagi semua orang sehingga jatuhnya cahaya ke wajah setiap orang sama / tidak belang-belang. Juga pastikan cahaya matahari tidak langsung menyinari wajah karena bisa menyilaukan. Bila cahaya matahari di belakang, seringkali kita perlu bantuan tambahan cahaya dari lampu kilat supaya subjek foto tidak menjadi gelap.
9. Di meja makan atau restoran
Bila kita foto grup di restoran. Hindari mengambil foto dari ujung meja, karena wajah orang yang dekat akan terlihat besar sekali dan yang jauh akan kecil sekali. Bila kita memakai flash, hal ini menjadi lebih bermasalah karena wajah orang yang dekat akan sangat terang dan yang jauh akan gelap. Dalam kasus seperti ini, lebih baik memanfaatkan bagian meja yang panjang sehingga jarak antara kamera dan setiap orang kurang lebih sama.








